Krisis politik dan ekonomi di Indonesia telah menyebabkan kemacetan dan kerawanan pada masyarakat. Oleh: Muhammad Iqbal, Ph.D, Psikolog - Assoc. Prof Universitas Paramadina & Alumni PPRA-54 Lemhannas RI Indonesia, kita melihat betapa pentingnya mengendalikan psikologi massa dalam situasi seperti ini.
Kenaikan harga beras dan inflasi yang terjadi beberapa waktu lalu telah memicu kepanikan dan kemarahan masyarakat. Orang-orang mulai merasa tidak aman dan tidak percaya diri lagi. Mereka mulai mencari alasan untuk menyalahkan pemerintah dan melawan lawan politik.
Situasi seperti ini adalah contoh yang baik dari bagaimana psikologi massa dapat dipengaruhi oleh faktor politik dan ekonomi. Ketika situasi krisis terjadi, psikologi massa dapat menjadi sangat labil dan mudah dipengaruhi oleh informasi yang salah atau manipulatif.
Sebagai psikolog, saya tahu bahwa psikologi massa dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keamanan, kebutuhan dasar, dan kepercayaan diri. Ketika situasi krisis terjadi, psikologi massa dapat menjadi sangat rentan terhadap kecemasan, kemarahan, dan ketidakpercayaan diri.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya untuk mengendalikan psikologi massa dalam situasi seperti ini. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan informasi yang akurat dan transparan, serta dengan mengembangkan program-program yang dapat membantu masyarakat menghadapi situasi krisis.
Dengan demikian, kita dapat mengendalikan psikologi massa dan mencegah kemacetan dan kerawanan yang dapat terjadi dalam situasi krisis.